Sudah 743 MW Pembangkit Listrik Bisa Digunakan Dari Program 35.000 MW

0
16
ILUSTRASI. Perusahaan China Berniat Bangun Pembangkit Listrik di Kalimantan Rp 5,2 T. (Ist)

JAKARTA, Inspirasibangsa (18/6) — Target pemerintah membangun pembangkit listrik 35.000 MWterus dikebut. Tercatat da terbukti hingga April 2017, pembangkit listrik dari program 35.000 MW baruberoperasi 743 MW dan mayoritas menggunakan energi terbarukan.

Sujatmiko, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menjelaskan yang dalam tahap konstruksi 13.816 MW. Sebesar 8.210 MW pembangkit listrik telah teken kontrak. Sementara, 5.845 MW dalam proses pengadaan dan 7.212 MW lainnya dalam tahap perencanaan.

Pembangkit listrik program 35.000 MW yang telah beroperasi sebesar 743 MW, terdiri dari 37 proyek dan tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua. Sebanyak 30 proyek pembangkit dapat menggunakan energi bersih, mulai dari gas bumi, surya, air hingga biogas.

“Meskipun untuk PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) dapat juga menggunakan diesel. Hanya tujuh proyek yang benar-benar menggunakan diesel,” kata Sujatmiko.

Dari 743 MW pembangkit listrik yang telah beroperasi tersebut, diantaranya di pulau terluar dan daerah perbatasan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua menggunakan pembangkit listrik dengan bahan bakar solar (pembangkit listrik tenaga diesel/PLTD).

PLTD dipilih karena dapat dibangun dengan cepat guna mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Sementara pembangkit listrik lainnya telah menggunakan energi bersih dan ramah lingkungan. Pembangkit listrik di Gorontalo contohnya, Gorontalo Peaker, dengan kapasitas 100 MW menggunakan bahan bakar gas bumi. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Gorontalo dengan kapasitas 2 MW juga telah beroperasi di sana.

Selain itu, di Sumatra, 16 pembangkit baru yang tersebar dari Lampung, Bangka Belitung, Jambi, Riau hingga Sumatra Utara, seluruh energi utama pembangkitnya bersumber dari gas bumi.

Mobile Power Plant (MPP) Paya Pasir di Sumut, dengan kapasitas 75 MW, pembangkit yang beroperasi penuh pada Februari 2017 lalu menggunakan bahan bakar gas bumi.

Sementara itu, di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) Logawa Baseh juga telah beroperasi secara komersial sejak Februari 2017.

Selanjutnya, di Kalimantan, terdapat empat proyek MPP, yaitu Pontianak 1 hingga 4 yang menyumbang 100 MW dan seluruhnya menggunakan gas bumi. MPP Pontianak 1 hingga 3 beroperasi penuh pada bulan Januari 2017. Sementara MPP Pontianak 4 telah lebih dulu beroperasi pada akhir 2016.

Selain itu, MPP Lombok 1 dan 2 di Nusa Tenggara Barat juga menggunakan bahan bakar gas untuk energi pembangkitnya. (Lang)