Ramadhan Dan Lebaran Tahun Ini, Dongkrak Permintaan Ekspor Mie Instan

0
10
Ilustrasi (Ist)

JAKARTA, Inspirasibangsa (5/7) Mie instan di kalangan Indonesia bukan lah jenis makanan yang tabu, malah jenis makanan cepat saji ini sudah menjadi generik. Karena itu, permintaan terhadap produk mie instan asal Indonesia di pasar ekspor terdongkrak pada momentum Ramadan Lebaran lalu.

Produsen mi instan milik grup Salim, PT Indofood Sukses Makmur Tbk., merasakan kenaikan permintaan jelang Ramadan Lebaran bukan hanya di pasar domestik, tapi juga terjadi pada permintaan dari pasar ekspor.

Terutama untuk produk Indomie yang sangat digemari bukan hanya di sini. Tapi juga di berbagai negara Afrika dan Timur Tengah, ujar General Manager Corporate Communication at PT Indofood Sukses Makmur Tbk Stefanus Indrayana, seperti dilansir Bisnis.com, Rabu (5/7/2017).

Penjualan produk mi instan perseroan masih ditopang oleh permintaan domestik. Porsi penjualan domestik melebihi 90% dari hasil produksi, sementara kurang dari 10% didistribusikan ke pasar ekspor.

Indofood mengekspor produknya ke berbagai negara di kawasan Afrika dan Timur Tengah. Tidak hanya itu, sejumlah negara lain turut menjadi tujuan ekspor Indofood seperti Australia, Papua Nugini, Hong Kong, Timor Leste, Amerika Serikat, Selandia Baru, Taiwan, dan negara-negara lain di Eropa.

Pada kuartal pertama 2017, penjualan keseluruhan brand mi instan Indofood tercatat senilai Rp6,12 triliun. Pabrikan memiliki sebanyak 16 fasilitas pabrik dengan kemampuan produksi sebanyak 15 miliar bungkus Indomie setiap tahun.

Badan Pusat Statistik mecatat nilai ekspor produk mie pada Mei 2017 senilai US$19,59 juta ata setara Rp260,5 miliar. Nilai itu naik sebesar 12,44% dibanding ekspor di bulan sebelumnya senilai US$17,4 juta atau setara Rp231,42 miliar.

Secara kumulatif, nilai ekspor produk mi pada periode JanuariMei 2017 senilai US$ 84,8 juta atau setara Rp 1,12 triliun. Agka itu naik 4,39% dibanding ekspor produk mie JanuariMei 2016 senilai US$81,2 juta atau setara Rp 1,07 triliun.

Berdasarkan data Asosiasi Produsen Mi Instan Dunia (World Instant Noodles Association/WINA), permintaan global terhadap produk mi instan mencapai 97,46 miliar bungkus pada tahun lalu. Permintaan global itu relatif sama dengan permintaan di tahun sebelumnya sebanyak 97,65 miliar bungkus.

Negara yang paling banyak mengkonsumsi mi instan adalah China dengan permintaan sebanyak 38,52 miliar bungkus per tahun pada 2016. Indonesia menjadi konsumen mi instan terbesar kedua di dunia dengan angka konsumsi tahunan melebihi 13 miliar bungkus mie instan.

Tapi, permintaan domestik mie instan di Indonesia terus mengalami penurunan sejak 2013. Sebab permintaan pasar domestik sempat mencapai 14,9 miliar bungkus mie instan pada 2013. Angka itu terus menurun hingga mencapai titik permintaan 13,01 miliar bungkus pada tahun lalu. (Lang)