Peristiwa Teror Yang Berkelanjutan Harus Ditangkal Sedini Mungkin

0
18
Ilustrasi (Ist)

JAKARTA, Inspirasibangsa (2/7) — Suasana lebaran belum usai, namun aksi teror sudah terjadi lagi di lingkungan Polri. Dua anggota Brimob ditusuk seorang pria tak dikenal di Masjid Falatehan, Jakarta Selatan, Jumat, 30 Juni 2017 setalah shalat Isya, pukul 19.40 WIB.

Kepala Biro Penerangan Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Rikwanto mengatakan peristiwa tersebut terjadi setelah korban selesai salat Isya. “Pelaku yang juga ikut shalat tiba-tiba berteriak dan menikam dua anggota yang berada di sebelahnya,” tandas Rikwanto saat dikonfirmasi, Jumat, 30 Juni 2017.

Setelah menikam dua anggota Brimob tersebut, pelaku mengancam jemaah yang lain menggunakan pisau sejenis sangkur. Dia kemudian berlari ke arah Terminal Blok M. “Sempat diberi tembakan peringatan tapi pelaku malah menantang sehingga terpaksa dilumpuhkan,” katanya.

Saat ini kedua korban penusukan dirawat di RS Pusat Pertamina yang tak jauh dari TKP. Mereka adalah Ajun Komisaris Dede Suhatmi dan Brigadir Satu Syaiful Bakhtiar. Sementara pelaku diduga tewas di tempat dan langsung dibawa ke RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur untuk diidentifikasi lebih lanjut.

Sementara itu, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan penyerangan terhadap dua anggota Brimob di Masjid Falatehan, Jakarta Selatan yang berlokasi tak jauh dari Mabes Polri, mirip dengan peristiwa penyerangan di Polda Sumatera Utara belum lama ini juga. Kendati demikian, ia belum bisa memastikan apakah penyerangan ini terkait dengan kejadian di Polda Sumut.

“Ini hampir sama dengan yang di Medan, menyerang anggota. Tapi belum tahu terkait atau tidak, kita lihat perkembangannya nanti,” kata Setyo saat dikonfirmasi, Jumat malam, 30 Juni 2017.

Peristiwa teror di Mabes Polda Sumut, terjadi pada Ahad, 25 Juni 2017. Serangan yang terjadi pada dinihari sekitar pukul 03.00 WIB itu menewaskan anggota Pelayanan Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Ajun Inspektur Satu Martua Sigalingging.

Dan, salah satu pelaku penyerangan terhadap Markas Kepolisian daerah Sumatera Utara (Polda Sumut), Syawaluddin Pakpahan, pernah terlibat kegiatan pertempuran di Suriah.

“SP (Syawaluddin Pakpahan, red) itu sudah terpantau oleh kami. Dia pernah bertempur di Suriah beberapa tahun lalu,” ujar Inspektur Jenderal Setyo Wasisto di kantornya, Kamis, 29 Juni 2017 seperti dilansirtempo.co.

Peristiwa teror setelah kejadian bom panci dan bunuh diri di Halte Busway, Kampung Melayu, penyerangan di Mabes Polda Sumut, selebaran teror yang berisi ancaman mengatasnamakan pengikut kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) yang ditemukan di mobil polisi di Polda Serang, Banten, serta penikaman dua anggota Brimob di masjid Falatehan yang terjadi Jum’at malam (30/6) mencerminkan terorisme masih bercokol di bumi Indonesia. Karena itu, pihak intelejen harus lebih waspada.

Wajar anggota Komisi I DPR Nurdin Tampubolon mengatakan, Badan Intelijen Nasional (BIN) harus memiliki sistem cegah dini atau early warning system dalam menangkal kejahatan intelijen, terorisme, ataupun kejahatan lainnya. Sehingga, kejahatan itu tidak sampai menelan korban.

“BIN harus memiliki informasi awal, sehingga kejahatan bisa mereka tangkal. Jangan sampai terjadi kejahatan atau terorisme, yang hingga menyebabkan korban. Itu menjadi tugas BIN untuk melihat apa yang terjadi sedini mungkin,” ungkap Nurdin, di sela-sela RDP dengan Kepala BIN beserta jajaran di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (14/6) seperti dikutip lamandpr.go.id.

Politisi F-Hanura itu pun mengingatkan, jangan sampai terjadi kecolongan lagi, sehingga aksi terorisme sampai menimbulkan korban. Untuk itu, BIN harus memperkuat operasinya dan peralatan. Ia pun memastikan, anggaran untuk BIN akan mendapatkan dukungan dari DPR.

Nurdin pun meminta BIN untuk berkoordinasi dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang baru saja dibentuk oleh Presiden. Apalagi, kejahatan siber sudah merajalela dimana-mana. Bahkan, berpotensi merusak sendi-sendi negara dalam pertahanan keamanan, bisnis telekomunikasi, hingga korporasi. (Lang)