Perbankan Syariah dan Pasar Muslim di Indonesia

0
15
Ist

JAKARTA, Inspirasibangsa (2/5) — Pasar muslim di Indonesia, dibagi menjadi dua golongan, yaitu rationalist dan apathist. Hal tersebut, seperti diungkap oleh Sofyan Tsauri, M.Si., Dosen Manajemen Perbankan Syariah, Fakultas Agama Islam-Universitas Muhammadiyah Jakarta (FAI-UMJ).

Menurutnya, muslim rationalist merupakan pangsa pasar yang berpikir tentang keuntungan yang akan didapatkan. Contoh, ketika dirinya menempatkan harta (red, uang) di perbankan syariah ataupun lembaga keuangan syariah lainnya, dirinya akan berpikir seribu kali.

“Untung atau tidak bila menempatkan dana di perbankan syariah. Begitulah pikirnya,” ungkap Sopyan, saat dimintai keterangan di sela-sela jam mengajarnya di kampus UMJ, Selasa (2/5).

Sopyan memberikan contoh, ketika BI Rate ditetapkan sebesar 7 %, dan kemudian seluruh perbankan konvensional memberikan harga jual terhadap Deposito sebesar 12 % per tahun. Adapun perbankan syariah hanya memberikan nisbah bagi hasil deposito sebesar 54 % untuk pemilik dana dan 46 % untuk perbankan syariah, yang besarnya keuntngan belum pasti. Sedangkan nisbah hanyalah patokan jika perbankan syariah mendapatkan keuntungan di kemudian hari.

Bagi Muslim rationalist, dirinya akan lebih memilih menempatkan hartanya di deposito perbankan konvensional. Bayangkan saja jika seandainya dana yang di-depositokan sebesar Rp 100 juta, maka pemilik dana akan mendapatkan bunga sebesar Rp 12 juta selama setahun atau Rp 1 juta per bulan.

“Begitu juga dengan muslim apathist, yang dirinya masa bodo, karena yang terpenting adalah keuntungan pasti yang akan diterima, setelah dana masuk ke dalam dana kelolah perbankan konvensional,” tambah Sopyan.

Sedangkan ketika dirinya menempatkan dananya di perbankan syariah, dirinya akan tetap menerima risikoketika bank syariah tidak mendapatkan kerugian atau impas (BEP/Break Event Point), maka tidak akan ada bagi hasil yang dapat diberikan. Ketika perbankan syariah mendapatkan keuntungan, barulah keuntungan tersebut yang akan dibagikan sesuai dengan besar nisbah yang disepakati di awal akad.

Ketika perbankan syariah dihadapkan pada pangsa pasar muslim rationalist dan muslim apathist, akad apapun yang akan ditawarkan kepada mereka, tentu tidak akan menarik hati mereka. Mereka hanya akan menganggap akad dalam perbankan syariah sebagai pemanisyang pada intinya sama saja.

“Padahal tidak-lah demikian, akad merupakan pembeda yang sangat fundamental antara perbankan syariah dengan perbankan konvensional. Dari akad itulah akan diketahui apakah suatu produk halal ataupun haram,” tambah Sopyan.

Sopyan menambahkan bahwa kita tak perlu khwatir, walaupun muslim rationalist dan apathist tak mau menggunakan jasa perbankan syariah, masih ada dua golongan muslim yang menjadi pangsa pasar potensial untuk mengembangkan market share perbankan syariah di Indonesia, yaitu muslim universalist dan conformist.

Muslim universalist merupakan golongan muslim yang lebih mengedepankan nilai-nilai syariat Islam. Dan muslim conformist merupakan golongan muslim yang akan memperaktikkan seluruh nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, dua golongan muslim inilah yang harus cepat disasar oleh pelaku perbankan syariah, untuk meningkatkan market share dalam waktu dekat. Karena dua golongan muslim ini sangatlah potensial.

“Apalagi ketika dua golongan muslim telah membuka acount di perbankan syariah, kemudian mampu memberikan edukasi kepada golongan muslim universalist dan conformist, tentu akan semakin mempercepat peningkatan market share perbankan syariah di Indonesia,” pungkas Sopyan. (Ham)