Pemindahan Ibukota Negara, Ciptakan Pemerataan Ekonomi Nasional

0
78
Ilustrasi. Ibukota Negara Pindah. (Ist)

JAKARTA, Inspirasibangsa (10/7) Ribut-ribut soal pemindahan Ibukota Negara masih simpang siur. Ada yang mengatakan nanti akan menjadi polemik baru secara politik. Ada yang bilang juga nanti akan menjadi pemborosan. Indonesia belum saatnya Ibukota Negara pindah seperti Malaysia dan Amerika Serikat, ada yang menyebut dua negara itu kan menganut sistem federal, sementara Indonesia masih sentralistik.

Pasalnya, kalau memang pemindahan pusat pemerintahan yang niatnya untuk pelayanan, pasti biaya untuk pelayanan jadi besar dan boros karena harus mondar mandir dari Jakarta ke Ibukota Negara begitu sebaliknya.

Namun, menurut pandangan pakar ekonomi Universitas Sam Ratulangi, Manado, Dr. Agus Tony Poputra, secara geostrategi, perpindahan Ibukota negara yang rencananya ke Kalimantan merupakan hal yang tepat karena berada di tengah wilayah Indonesia.

Dr. Agus Tony Poputra, SE., Ak., MM., MA (dok)

Secara ekonomi, perpindahan ini akan mempercepat pembangunan di wilayah di luar Jawa. Perlu dipahami bahwa peran pemerintah sangat berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi di Indonesia terutama di luar Jawa. Demikian juga koordinasi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat pada kawasan-kawasan tertentu menjadi lebih dekat, tandasnya kepada Inspirasibangsa.com.

Tak dipungkiri juga, Agus Tony mengungkapkan tetap ada kelemahannya, terutama masalah anggaran berkaitan dengan infrastruktur termasuk rumah untuk PNS pusat yang harus pindah.

Namun itu dapat diselesaikan lewat kerjasama pemerintah dengan swasta. Hal yang mendesak yang perlu dibuat pemerintah saat ini, adalah kepastian pemindahan itu sendiri sebab ketidakpastian mengenai pemindahan itu akan membuat sektor swasta menjadi wait and see sehingga menunda investasi secara keseluruhan.

Selain itu, pemilikan lahan oleh pemerintah sebaiknya secepatnya dilakukan agar lahan-lahan di daerah yang menjadi tujuan pemindahan Ibukota negara bisa dikuasai oleh mafia tanah yang membuat investasi lahan menjadi mahal nantinya, kilah Agus Tony, jebolan Jurusan Program Magister dari Universitas Indonesia.

Sementara, pakar ekonomi Universitas Negeri Papua, Papua Barat, Guzali Murinho Tafalas mengatakan prinsipnya sangat mendukung, karena ada beberapa hal pertimbangannya antara lain dari sisi kelayakan situasi Jakarta saat ini, sisi kepadatan dan efesiensi dan efektifitas sudah sangat tidak layak.

Guzali Mourinho Tafalas, Ekonom Universitas Negeri Papua, Papua Barat. (dok)

Yang terpenting dari sisi ekonomi dengan pemindahan Ibukota Negara akan menciptakan pemerataan pembangunan, karena investasi yang tadinya berpusat di Jakarta dan Jawa akan beralih ke daerah, kesempatan kerja akan tercipta yang pada akhirnya daerah-daerah luar Jawa pun dapat berkembang sesuai dengan yang kita harapkan, jelas Guzali, jebolan Master dengan Jurusan Kebijakan Publik, Universitas Hasanuddin kepada Inspirasibangsa.com. (Lang)