Nilai Ekspor Indonesia Masih Dikuasai Produk Perkayuan

0
12
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

SAMARINDA – Nikai ekspor Indonesia tahun 2017 cukup positif. Sumber ekspor itu terutama dari produk kertas Indonesia ekspor ke seluruh negara dalam dua tahun ini, dari total ekspor produk perkayuan yang senilai US$11,83 miliar, khusus dari ekspor kertas mencapai US$3,95 miliar pada 2016-2017.

“Nilai ekspor sebesar ini merupakan ekspor dengan dokumen V-Legal, yakni Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) maupun Lisensi FLEGT,” ujar Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rufi’ie di Samarinda, Senin (10/7).

Hal itu dikatakan Rufi’ie saat ekspose pelaksanaan SVLK dan Lisensi FLEGT dengan tema Diseminasi Capaian Penerbitan Lisensi FLEGT Indonesia.

Ekspose yang digelar di aula Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim tersebut dihadiri berbagai pihak terkait mulai pelaku ekspor perkayuan, hingga pemerintah daerah yang membidangi teknis ekspor produk perkayuan.

Menurut dia, ekspor produk perkayuan dengan menggunakan sistem V-Legal dan FLEGT baru mulai diterapkan pada 2016. Lisensi FLEGT merupakan lisensi yang diterbitkan setelah Indonesia menerapkan SVLK.

Pada 2016, lanjutnya, total nilai ekspor dari produk perkayuan sebesar 9,26 miliar dolar AS untuk semua negara. Sedangkan khusus untuk ekspor menggunakan Lisensi FLEGT yang diterapkan ke Uni Eropa senilai 868,85 juta dolar AS.

Dari total ekspor itu, untuk ekspor produk perkayuan berupa kertas ke semua negara tujuan sebesar 3,11 miliar dolar AS, sementara khusus ekspor kertas ke Uni Eropa (UE) senilai 204,17 juta dolar.

“Ada dua sistem yang diterapkan dalam ekspor produk kayu, yakni dengan menggunakan SVLK yang diterapkan kepada semua negara di luar UE, sementara khusus ekspor produk perkayuan ke UE menggunakan Lisensi FLEGT,” ujarnya seperti dilansir Bisnis.com.

Khusus hasil ekspor produk perkayuan hingga Maret 2017 senilai US42,57 miliar ke seluruh negara, sementara khusus ekspor ke UE senilai US$277,26 juta.

Menurut dia, untuk ekspor kertas ke semua negara di dunia hingga Maret 2017 senilai US$837,37 juta, sementara ekspor kertas ke UE senilai US$65,25 juta.

“Ekspor hasil kayu lainnya hingga Maret 2017 ke semua negara, berupa hasil kerajinan senilai US$28,91 juta, furniture US$368,05 juta, panel US$567,48 juta, pulp US$475,66 juta, woodworking (kayu olahan) US$265,04 juta, dan ekspor chip senilai US$28,91 juta,” kata Rufi’ie.

Sementara, menurut Asep Badrutaman, pelaku bisnis kehutanan kepada Inspirasibangsa, sebenarnya Indonesia masih bisa ekspor hasil hutan lainnya, jangan dari perkayuan saja, sayang hutan kita ditebangi terus. Misal kita bisa ekspor hasil hutan seperti karbonnya.

“Justru kalau kita jual karbon, hutan kita malah tetaphijau royo-royo malah semakin rimbun, Negara asing yang sudah kerjasama secara G to G selain Jepang, Norwegia, Inggris, Perancis, dan Belanda juga beli carbon ke Indonesia,” tandas Asep yang sudah malang melintang bekerja di bisnis jasa lingkungan ini.

Tapi sayang, kata Asep, pemerintah masih lambat mekanisme perdagangannya, semisal penetapan perhitungan bagi hasil dengan dunia usaha. Jadi lambat dan tidak menarik untuk usaha jasa lingkungan mengelola hutan terutama perdaganga karbon. (Lang)