Mengenal Harapan Kota Tambang Sanggata, Kaltim

0
20
Ekonomi di kota Sangatta berkembang cukup pesat, itu dikarenakan adanya tambang batubara KPC (Kaltim Prima Coal). (Ist)

SANGATTA, Inspirasibangsa (29/6) — Sejatinya tiap wilayah pasti memiliki destinasi wisata, apalagi kota Sangatta yang terkenal dengan kota tambang batubara, dengan program reklamasi bekas tambang terbuka bisa dimanfaatkan untuk menjadi lokasi wisata maupun sektor lainnya seperti perkebunan, peternakanan, dan pendidikan.

Apalagi setiap perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah itu memiliki program CSR (corporate social responsibility atau pemberdayaan masyarakat sekitar tambang, red) dan dana atau anggaran reklamasi yang disiapkan sebelum membuka lahan tambang sebagai pengolahan lahan bekas tambangnya.

Bukan saja kota Sanggata, kalau diminta menyebut kota tambang di Indonesia, sebagian besar dari kita bakal menyebut Timika di Papua atau Belitung yang namanya melejit berkat novel Laskar Pelangi. Kedua kota tersebut boleh dibilang bisa maju berkat pembangunan yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan

Namun, tak banyak yang tahu jika di tengah belantara Kalimantan ada sebuah kota yang berkembang karena dibukanya tambang di sekitarnya. Namanya Sangatta. Statusnya saat ini adalah ibukota Kabupaten Kutai Timur.

Kota Sanggata awalnya hanyalah desa kecil yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Kutai (sebelum pemekaran). Pada era 90-an jalanan beraspal belum ada. Jalur transportasi utama kala itu adalah sungai yang menghubungkan Sangatta dengan Bontang sebagai kota besar terdekat.

Oleh karena itu, kawasan paling ramai di masa itu ada di sepanjang bantaran sungai. Saat ini daerah tersebut dinamakan Sangatta Lama.

Sangatta bisa dicapai via jalur darat dari ibukota Kalimantan Timur Samarinda selama 6 jam perjalanan. Belum ada bandara komersial ataupun pelabuhan penumpang di kota ini.

Nama Sangatta sendiri sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. Menurut beberapa sumber sejarah, nama Sangatta berasal dari nama seorang kepala adat suku Kutai di era kejayaan Kerajaan Kutai.

Sampai kemudian PT Kaltim Prima Coal (KPC) berdiri dan mendapat izin kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) pada 1982 dan resmi beroperasi 1992. Perusahaan ini menggali ’emas hitam’ di lokasi yang tak jauh dari pusat kota Sangatta saat ini.

KPC adalah perusahaan tambang batubara open pit (penambangan terbuka) terbesar di dunia. Luas lahan konsesinya mencapai 90.938 hektar dengan kapasitas produksi mencapai 50 juta ton per tahun.

Batubara yang diproduksi KPC adalah kategori prima, salah satu kualitas batubara terbaik dengan nilai kalori tertinggi. Oleh karenanya orientasi pasarnya adalah ekspor.

Di awal beroperasinya, KPC membuka lowongan kerja besar-besaran yang membuat para pencari kerja dari penjuru nusantara datang berbondong-bondong. Tak heran jika masyarakat Sangatta menjadi sangat majemuk. Boleh dikata hampir seluruh suku di nusantara ada di kota ini. Mulai dari Bugis, Dayak, Madura, Jawa, Sunda sampai Flores ada di sini.

Kehadiran KPC membuat geliat ekonomi di kota ini perlahan-lahan meningkat. Dari awalnya desa kecil, tetapi karena semakin ramai statusnya semakin meningkat menjadi kecamatan. Sampai kemudian saat kebijakan otonomi daerah bergulir dan Kabupaten Kutai dimekarkan, Sangatta dipilih sebagai ibukota kabupaten baru Kutai Timur.

Semakin banyaknya kebutuhan tenaga kerja membuat jumlah penduduk Sangatta meningkat drastis. Menurut data Badan Pusat Statistik Kutai Timur, jumlah penduduk Sangatta sebanyak 119,345 jiwa per 2015.

Ketergantungan kota ini terhadap KPC amat besar. Hal tersebut wajar mengingat mayoritas penduduk usia produktif di sini bekerja di KPC ataupun di kontraktor dan sub kontraktornya. Sejumlah fasilitas publik dan infrastruktur di Kutai Timur pun berasal dari bantuan perusahaan milik Bakrie Group ini.

Namun, ketergantungan tersebut juga punya sisi negatif. Saat kinerja KPC goyah, imbasnya amat terasa bagi perekonomian Kutai Timur khususnya Sangatta. Contohnya saat harga komoditas batubara internasional merosot pada 2014-2015 pendapatan masyarakat kota ini pun ikut menurun. Akibatnya banyak yang kesulitan membayar cicilan kredit di bank dan perusahaan pembiayaan.

Selain KPC, perusahaan tambang lain yang ada di kota ini adalah Pertamina. Perusahaan pelat merah ini menggali minyak di lahan seluas 113.613 hektar.
Pada 2016 produksinya mencapai 1.688 BOPD.

Sekalipun tergolong baru ketimbang kota-kota lain yang lebih dahulu eksis seperti Samarinda dan Balikpapan, tetapi posisinya dalam percaturan politik dan ekonomi di Kalimantan Timur cukup diperhitungkan.

Sebagai gambaran, gubernur Kaltim saat ini, Awang Faroek Ishak, merupakan bupati pertama Kutai Timur. Selain itu, wakil ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang juga politisi Golkar Mahyudin adalah mantan bupati Kutai Timur.

Secara geografis kota ini punya potensi besar untuk berkembang. Posisinya persis menghadap ke Selat Makassar. Diprediksi kota ini bisa berkembang menjadi kota pelabuhan utama di kawasan tersebut. Salah satu buktinya adalah Sangatta dipilih sebagai salah satu titik trayek tol laut mengingat letaknya yang tak jauh dari perbatasan Indonesia-Malaysia.

TNI AL pun memilih kota ini sebagai pangkalan militer dan hampir setiap tahun diadakan latihan tempur di kawasan ini.

Walaupun demikian, Sangatta harus segera mencari sumber pendapatan lain selain bergantung pada pertambangan. Batubara yang digali KPC diperkirakan akan habis pada 2041. Sedangkan pendapatan daerah dari agroindustri seperti perkebunan kelapa sawit belum signifikan.

Pariwisata sejatinya berpotensi untuk dikembangkan. Salah satunya adalah Pantai Teluk Lombok yang telah lama menjadi tujuan wisata penduduk lokal. Begitu pula dengan area eks tambang. Potensi tersebut sudah dirintis oleh KPC yang menyulap lahan pasca tambangnya menjadi ekowisata yang dipadukan dengan peternakan sapi.

Soal transportasi, Sanggata pun memiliki bandara perintis meskipun itu milik perusahaan KPC, yakni Bandara Tanjung Bara yang bisa didarati pesawat jenis TO (Twin Otter) bisa terbang dari Balikpapan ke Sanggata hanya 60 menit terbang.

“Saya yakin, kota Sanggata bisa lebih maju bila pemerintah kabupaten Kutai Timur lebih serius untuk memajukan kota Sanggata ini, apalagi areanya cukup luas, dan sektor pendidikan di sana tak kalah dibanding dengan kota-kota lain untuk propinsi Kalimantan Timur. Pusat belanja pun sudah mulai tumbuh, infrastruktur jalan pun sudah ada, dan kuliner banyak bertebaran mengingat masyarakat pendatang juga banyak seiring bercokolnya perusahaan kontraktor tambang dan pertambangan,” tukas Ridwan salah seorang mantan karyawan KPC selama lima tahun pernah di Sanggata. (Lang)