Membentuk Energi Kreatif Lewat Liburan

0
17

 

Ilustrasi. (Ist)

JAKARTA, Inspirasibangsa (20/5) — Banyak orang memandang liburan sebagai hal biasa. Bahkan sepele. Ini sikap yang sesungguhnya ironic. Sebab liburan itu sebuah keniscayaan.

Di masyarakat orang memang cenderung lebih peduli pada kerja ketimbang libur. Sehingga hari libur pun kerap dibiasakan menjadi hari kerja. Untuk jangka pendek sikap melalaikan liburan ini bisa jadi tidak menjadi masalah.

Namun untuk jangka waktu tertentu, dampaknya bisa panjang. Sebab jika selalu mengabaikan kebutuhan berlibur, jangan menyesal dipaksa untuk berlibur di rumah sakit.

Berlibur pada hakekatnya melakukan relaksasi hidup. Berlibur juga berarti kembali kepada kesenangan yang pribadiah. Bentuk dan caranya karena ini bersifat pribadiah akan sangat personal.

Lisa Mutantyo, eksekutif muda di sebuah perusahaan swasta di jakarta, menempatkan libur sebagai hari penting. Saya bekerja dengan sepenuh hati. Berlibur pun sama. Saya lakukan dengan sepenuh hati. Katanya.

Pada hakekatnya berlibur bukanlah sekedar jalan-jalan. Berlibur merupakan aktifitas penuh ekspresi.

Ia bisa menjadi moment untuk melampiaskan energienergi yang tumpul. Untuk sekaligus membangun ruang baru bagi energi-energi potensial. Berlibur membuat orang merasa seperti lepas, bisa menanggalkan semua hal yang selama ini dirasa mengikatnya.

Dengan pemahaman seperti ini, maka berlibur merupakan aktifitas yang melibatkan unsur kepasrahan pikiran, dan psikis seseorang dalam menyerap kesenangan dan relaksasi. Jadi jangan pernah fisik berlibur, jalan-jalan, tapi pikiran tertinggal di kantor.

Sikap seperti ini diarasakan sangat konstruktif untuk kreatititas kerjanya. Lewat libur, Lisa merasa mengalami beberapa proses alamiah yang kondusif. Libur tak ubahnya dengan moment pemupukan energy kreatif secara alamiah, kata penggemar musik tradisional degung ini.

Sikap serupa juga dirasakan oleh Ilham Subiantoro, seorang pengusaha mainan anak-anak. Setiap habis Liburan Ilham selalu merasa punya energy baru. Ide-ide segar gampang muncul, timpalnya.

Berlibur, tidak melulu meluangkan waktu panjang dan pergi sampai ke ujung dunia. Lisa, merasa cukup menikmati liburan yang indah dengan duduk di tepi pantai, sembari menikmati apa saja yang khas pantai. Yang penting dinikmati, katanya. (HG)