Kertas dan Karton Kemasan Makanan, Rawan Terkontaminasi Zat Kimia

0
20
Kegiatan Diskusi Ngobrol Santai Bareng SNI (dok)

JAKARTA, Inspirasibangsa (18/5) — Masyarakat diminta untuk berhati-hati memilih kertas dan karton yang dibuat sebagai media kemasan untuk produk pangan/makanan. Pasalnya, tidak sedikit kemasan kertas dan karton makanan yang mengandung logam berat, kandungan formaldehid, dan pentaklorofenol yang kemudian bermigrasi ke dalam tubuh manusia.

Menurut data dari Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), 80% kemasan pangan yang beredar di lapangan tidak aman. Rata-rata tidak memerhatikan aman tidaknya kemasan, dan hanya fokus pada harga murah.

“Ini yang jadi masalah di Indonesia. Masyarakat belum terbiasa dengan kemasan pangan yang aman. Mereka mengganggap asalkan bersih, cetakannya bagus, harganya murah langsung diambil,” kata ‎Sekretaris Utama Badan Standardisasi Nasional (BSN) Puji Winarni, dalam diskusi Ngobrol Santai Bareng (Ngobras) SNI di Jakarta, Selasa (16/5).

Dia mencontohkan, pedagang gorengan maupun warung makanan yang senang menggunakan kertas nasi berwarna cokelat. Padahal kertas jenis tersebut sangat berbahaya karena mengandung zat kimia berbahaya.

“Bahaya penggunaan kemasan pangan yang tidak aman ini bisa menyebabkan kanker dalam waktu panjang. Sebab zat-zat kimia yang tidak terurai sempurna bisa menempel di makanan,” tuturnya.

Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menetapkan SNI 8218:2015 untuk kertas dan karton kemasan pangan. Penerapan SNI Kemasan Pangan ini diharapkan dapat meningkatkan perlindungan konsumen.

“Penerapan SNI kemasan pangan diharapkan bisa meningkatkan perlindungan konsumen‎. Namun, sayangnya belum ada produsen kertas dan karton yang mengurus sertifikat SNI-nya,” kata Puji.

Belum adanya perusahaan kertas dan karton yang memiliki ‎SNI diakui pihak asosiasi. Menurut Humas dan Hubungan Internasional Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Jessica Yonaka, meski persyaratan SNI sangat ketat untuk melindungi konsumen dari masalah keamanan, kesehatan, dan keselamatan lingkungan (K3L), tetapi antusiasme produsen kertas kemasan pangan cukup tinggi.

Mengingat sudah saatnya Indonesia memiliki standar yang menjamin K3L produk kertas kemasan pangan.

“Yang jadi masalah hingga belum satu produsen kertas kemasan pangan belum ber-SNI adalah belum adanya lembaga uji yang bisa melakukan sertifikasi untuk SNI kertas dan karton kemasan pangan. Kami dari asosiasi akan tetap memantau perkembangan lembaga uji mana yang mampu, karena penerapan SNI ini akan memberikan perlindungan bagi masyarakat,” katanya. (Amin)