Harapan Pembuat Gula di Ramadhan Tahun Ini

0
21
Ist

JAKARTA, Inspirasibangsa (4/5) — Bulan Suci Ramadhan sebentar lagi datang. Harap-harap cemas. Karena, biasanya di bulan penuh berkah tersebut, pedagang akan kebanjiran orderan.

Demikian pula, harapan tersebut tercetus dari seorang pembuat gula nira, Ibu Atin. “Setiap hari, Bapak mengambil nira dari 60 pohon kelapa. Nira yang sudah dikumpulkan, Ibu buat jadi gula. Dari 60 pohon itu biasanya jadi 5 Kg gula merah,” tutur Atin, (45th).

Yana (49th), suami Atin memang sangat tangguh. Dengan cekatan menaiki pohon demi pohon kelapa tanpa ragu dan tersendat. Padahal usianya tidak lagi muda. Yana bekerja dari pagi hingga sore mengumpulkan nira.

“Pohon-pohon kelapa ini adalah pohon sewaan. Satu pohon biaya sewanya Rp5.000 per bulan. Kadang Bapak bayar pakai nira. Biasanya hasil mengumpulkan nira 2 hari, diberikan kepada pemilik pohon, lalu yang 2 hari berikutnya buat Bapak. Jadi selang seling gitu,” jelas Yana.

Atin dan Yana adalah sepasang suami istri yang tinggal di Blok Panglanjan, Dusun Babakan Jaya, Desa Bojongsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.

Atin dan Yana memiliki 2 orang putra, yaitu Sarip Nur AA (20th) yang sudah menikah, dan Kusmayadi (16th) yang saat ini duduk di bangku kelas 1 SMK Al-Kautsar, Kalipucang.

“Gula yang sudah jadi, Ibu kumpulin dulu selama 15 hari. Biar kalau dijual agak banyakan, biasanya 15 hari itu bisa dapat 50 Kg gula,” ujar Atin.

“Gula dijual ke penadah, hargnya Rp7.600 per kilo, jadi 15 hari itu bisa dapat 300-400ribu. Tapi itu belum bersih, soalnya Ibu punya hutang ke penadahnya. Dari 50 Kg gula yang dijual, Ibu pakai buat cicil hutang 20Kg dan sisanya 30Kg buat keperluan rumah tangga,” cerita Atin.

Kehidupan keluarga Atin memang tidak mudah, dengan penghasilan hanya 300-400 ribu per 15 hari, dan dikurangi cicilan hutang sekitar 150 ribu, tentu saja membuat Atin kesulitan mengatur kebutuhan keluarganya. Apalagi, Atin masih memiliki seorang putra yang sekolah.

“Kusmayadi itu sangat semangat sekolah. Dia anak yang pantang menyerah. Saat SMP dulu, bahkan dia rela jalan kaki dari rumah ke jalan raya yang jaraknya jauh (hampir 5 KM), lalu naik angkot yang juga masih jarang,” ungkap Atin.

Sebagai informasi, rumah Atin berada di atas perbukitan, di mana kondisi jalannya berbatu dengan kiri kanan adalah hutan. Tidak ada ojek, apalagi angkutan umum yang dapat menjadi sarana transportasi warga Dusun Babakan Jaya ke jalan raya.

Salah satu cara, hanya dengan jalan kaki, atau menggunakan motor pribadi. Karena itulah, motor bagi warga Dusun Babakan Jaya, menjadi satu kebutuhan pokok agar mereka dapat melakukan aktivitas ekonomi keluar dusunnya.

“Karena Ibu dan Bapak kasihan melihat Kusmayadi tiap hari jalan kaki ke jalan raya, jadi kami belikan motor bekas pas dia masuk SMK. Uangnya pinjam juga dari penadah gula 4 juta. Makanya sampai sekarang, hutang Ibu masih banyak ke penadah, sekitar 3,5juta lagi,” jelas Atin.

Atin dan Yana memang sangat mendukung semangat Kusmayadi bersekolah, meski dengan segala keterbatasan.

“Ibu dan Bapak, hanya ingin Kusmayadi memiliki kehidupan yang lebih baik di masa depan. Lebih baik dari Ibu dan Bapak sekarang,” ujar Yana.

Di Ramadhan tahun ini, Atin ingin sekali bisa membelikan baju baru untuk Kusmayadi.

“Ingin bisa belikan baju lebaran untuk Kusmayadi, biar bajunya gak itu-itu aja kalau lebaran,” tutur Atin.

“Ingin juga bisa beli daging yang banyak. Soalnya Kusmayadi suka makan daging. Tapi, karena ibu tidak punya uang, jadi makan dagingnya jarang,” pungkasnya. (Ham)