Fenomena Bawang Putih Jelang Bulan Puasa, Harus Dievaluasi Segera

0
34
Stok langka, pedagang tak jual bawang putih. (Ist)

PALEMBANG, Inspirasibangsa (16/5)– Fenomena harga bawang putih jelang Ramadhan cukup menjadi perhatian pemerintah, “Ini belum masuk bulan puasa loh, bagaimana nanti saat masuk bulan suci, jangan-jangan bisa menggila lagi harganya,” ketus Parmanto (46) salah seorang warga kota Palembang menyikapi naiknya harga bawang putih di pasar. Karena dari pantauannya di sejumlah pasar tradisional Kota Palembang sudah menembus ke harga Rp80.000/kg atau melambung dari harga normalnya di kisaran Rp36.000/kg.

Sedangkan Yohana (56), pedagang bumbu dapur di Pasar Perumnas Palembang, Senin (15/5) mengatakan bahwa kenaikan harga bawang putih ini terjadi sejak sepekan terakhir.

“Pergerakan sudah terasa sejak dua minggu ini, mulai naik jadi Rp60.000 per kg, kemudian Rp70.000 per kg, dan terakhir kemarin (15/5) jadi Rp80.000 per kg,” kata Yohana.

Lantaran itu pula, omset pedagang ini dari penjualan bawang putih menjadi merosot hingga 50 persen karena masyarakat memutuskan untuk mengurangi konsumsi.

Rukmini (43) pedagang bumbu dapur lainnya di Pasar Cinde Palembang juga mengeluhkan hal serupa. Sejak kenaikan harga bawang putih ini membuat pendapatannya berkurang.

“Pembeli tentunya bertanya mengapa harga bawang putih naik. Tapi, saya sebagai pedagang mau jawab apa karena kami terima dari agen sudah tinggi,” kata Rukmini, warga Talang Banten, Plaju ini.

Kenaikan harga bawang putih ini cukup mengejutkan apalagi saat pantauan Inspektur Jenderal Kementerian Perdagangan Srie Agustina ke dua pasar tradisional, 12 April lalu masih stabil di harga Rp35.000/kg. Malahan Srie memastikan bahwa harga bumbu dapur bawang putih ini akan tetap stabil hingga Lebaran karena stok yang cukup.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel Agus Yudiantoro tidak membantah bahwa harga bawang putih saat ini sedang melonjak.

Ia tidak menampik bahwa keadaan ini menimbulkan kekhawatiran mengingat terjadi menjelang Ramadhan.

“Saat ini sedang dilakukan penyelidikan mencari apa penyebabnya karena sejatinya permintaan biasa-biasa saja dan stok ada. Lantas mengapa harga naik ?,” kata Agus seperti disitir AntaraNews.com

Untuk itu pemprov akan bergerak cepat dengan mendatangi para distributor-distributor besar bawang putih karena menduga adanya “permainan” harga oleh mafia.

“Ini juga masih dugaan, kami masih menyelidikinya,” ujar Agus.

Ketersediaan bawang putih di Indonesia hingga kini masih didominasi impor berasal dari dua negara, yakni Tiongkok dan India. Tiongkok memegang porsi mayoritas sebesar 99,25 persen, sementara India 0,65 persen.

Total impor bawang untuk periode Januari-Februari 2017 mencapai 60,9 ribu ton dengan nilai impor 70,5 juta dolar AS. Secara volume terjadi penurunan dari periode sama tahun sebelumnya, yakni 77,2 ribu ton atau sebanyak 21,13 persen. Namun, nilai impor justru naik sebanyak 22,06 persen atau dari 57,7 juta dolar AS.

Di Depok

Sementara di pasarKemiri, Depok Jawa Barat, pergerakan harga bawang putih terus merangkak naik. Pantauan Inspirasibangsa di Pasar Kemiri, Depok, harga bawang putih menembus Rp 60.000/Kg. “Saya juga bingung mas, mau jual ke konsumen mau bagaimana lagi. Karena saya beli di Agen besar harganya juga sudah tinggi. Saat saya tanya, kok naik, alasan Agen besar itu pasokan bawang putih lagi langka,” ujar Slamet pedagang keliling di seputar perumahan Puri Depok Mas pasrah kepada Inspirasibangsa.

“Iya sebel banget, setiap mau puasa ada saja harga bahan pokok naik, kan pemerintah kalau saya lihat di tv sudah lakukan sidak di sana-sini bahkan akan memberi sanksi kepada mafia bahan pangan. Ini masih ada yang naik, artinya kan masih kecolongan atau jangan-jangan para pejabat itu cuma lips service aja atau ABS (asal bapak senang, red),” tukas Ibu Lestari salah seorang warga perumahan Griya Pancoran Mas Indah, Depok kesal.

Sejatinya, bila pemerintah sudah lakukan antisipasi seperti sidak, kerjasama dengan berbagai pihak, bersinergi dengan instansi terkait, tapi masih saja ada yang tak bisa dikendalikan, ini pasti ada yang tidak beres di tataran lapangannya atau bahkan di pemerintah ada satu step yang terlewati dalam mengolah tata niaga bahan pokok pangan.

“Ini harus segera dievaluasi lagi dimana kesalahannya. Kalau kasus bawang putih karena pasokan atau impor dari Tionghoa terkendala, mestinya pemerintah sudah antisipasi jangan mengandalkan impor dari negeri Tionghoa saja. Segera cari negara lain entah itu dari Malaysia, Vietnam, Thailand dan lainnya untuk dijajaki. Ini malah tidak, masa hampir 100% tergantung dari negara Tionghoa. Kalau ceritanya begini kan, yang rugi dan repot masyarakat juga,” tukas Gunawan W. salah seorang pensiunan PNS di lingkungan Kementerian Pertanian kepada Inspirasibangsa. (Lang)