Energy Cost Jadi Kendala Utama Bagi Industri Tekstil

0
13
Sektor Industri tekstil Harus Terus Tumbuh. (Ist)

JAKARTA, Inspirasibangsa (8/6) Industri tekstil sejatinya sudah menjadi perhatian pemerintah karena menyerap tenaga kerja yang besar. Setelah sempat melemah pada 3 tahun terakhir, angin segar mulai berembus ke sektor pakaian jadi. Ini dapat dilihat dari proyeksi Asosiasi Pertekstilan Indonesia yang menyebutkan ekspor bakal positif pada kuartal II tahun ini.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan relokasi pabrik ke sejumlah daerah di Jawa Tengah yang mendorong pertumbuhan pabrik baru berteknologi tinggi ikut mendorong produktivitas pabrikan pakaian jadi. Selain itu, pebisnis juga banyak mempekerjakan tenaga kerja terlatih. Alhasil, daya saing produk pakaian jadi pun terdongkrak.

Saat ini untuk produk pakaian jadi, Indonesia sudah head-to-head dengan China, sudah cukup kompetitif, jelas Ade di Jakarta, Selasa (7/6) malam.

Sayangnya, sejumlah masalah masih menghadang pabrikan, terutama biaya energi. Selain memukul industri hilir, ongkos operasional yang tinggi karena biaya listrik ini juga dikeluhkan oleh pelaku industri hulu. Pemangkasan biaya listrik diperlukan industriuntuk menekan biaya pokok produksi dan meningkatkan daya saing produk.

Secara umum energy cost untuk industritekstilmasih tinggi. Energy cost perlu diturunkan supaya bisa bersaing dengan negara lain, ujar Presiden Direktur PT Asia Pacific Fibers Tbk. Ravi Shankar, belum lama ini seperti dilansir Bisnis.com.

Ravi menyatakan biaya energi merupakan salah satu komponen biaya terbesar bagi industritekstil. Menurutnya, biaya listrik yang dikenakan bagi industritekstildi dalam negeri rata-rata senilai US$12 sen per kWh.

Sementara itu, negara negara pesaing utama Indonesia di bidangtekstil menetapkan tarif listrik yang jauh lebih kompetitif. Ia mengumpamakan pabrikantekstil di Vietnam dan Bangladesh hanya dikenai biaya listrik senilai US$6US$7 sen per kWh.

Ketimpangan biaya energi itu, menurutnya, menjadi salah satu factor stagnasi industritekstildi dalam negeri. Kalau dilihat 34 tahun ke belakang kalau pertumbuhan tekstil kita flat. Pada saat yang bersamaan India, China, Vietnam, dan Bangladesh tumbuh pesat sekali. (Lang)