Dua Bank Syariah Plat Merah Butuh Suntikan Modal

0
19
Ist

JAKARTA, Inspirasibangsa (7/6) — Dua Bank Syariah plat merah yang berada di bawah naungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu BNI Syariah dan BRI Syariah sedang membutuhkan suntikan modal. Pasalnya, dua bank syariah tersebut berencana lakukan penawawan saham perdana atau IPO (initial public offering).

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) IPB, Irfan Syauqi Beik mengemukakan bahwa ada beberapa cara yang dapat dilakukan perseroan dalam rangka menambah permodalan. Sehingga dengan menambah permodalan, kinerja perseroan makin stabil.

Menurut Irfan, selain IPO, bisa penyuntikan modal, penerbitan sukuk serta melalui investor strategis. Itu semua, dapat dipilih sesuai kriteria yang diinginkan perseroan.

“Tapi yang lebih penting, saya berharap, karena ini anak-anak BUMN, maka sebenarnya negara seharusnya bisa memperkuat permodalan, lewat penyuntikan modal melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” ujar Irfan kepada Selasa (6/6), seperti dilansir dari republika.co.id.

Perlu diketahui, saat ini perbankan syariah plat merah milik pemerintah, telah diberi izin untuk ikut proyek-proyek pemerintah. Khususnya bidang infrastruktur. Selain itu, juga menjadi bank operasional II yang membayar gaji PNS (Pegawai Negeri Sipil).

Irfan menambahkan, hal tersebut, seperti yang dilakukan oleh Bank Mandiri saat membesarkan Bank Syariah Mandiri (BSM). Sehingga menjadi bank syariah dengan aset terbesar di Indonesia.

“Biarkan keuntungannya masuk dalam bentuk permodalan. Jadi berkorban dulu, misalnya tidak ambil dividen setahun ini untuk penyuntikan modal bank syariah anaknya,” kata Irfan.

Irfan menjelaskan, cara seperti itu dirasa lebih efektif, dengan tidak mengambil terlebih dahulu keuntungan yang diperoleh. Sebab, rencana merger bank syariah anak usaha BUMN, dinilainya belum akan dapat terealisasi dalam waktu dekat.

Dan perlu diketahui, merger tidak dapat menambah pangsa pasar, terlebih lagi harus ada penyelesaian di antara bank induk terkait kepemilikan, dan SDM.

“Dan pertimbangan bisnis masing-masing induk bank anaknya ini kinerjanya masih bagus dan dianggap aset berharga bagi masing-masing induk. Karena kalau profitable kan tidak mungkin Dilepas,” pungkasnya. (Ham)