Dimensi Syukur dalam Ibadah Puasa

0
21
Ist

Oleh: Faris BQ, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

JAKARTA, Inspirasibangsa (1/6) — Puasa yang tengah kita jalani ini melatih kesabaran atau kesyukuran? Tentu saja asalnya puasa adalah menahan. Jika pada satu kendaraan, puasa adalah rem. Maka yang pertama kita butuhkan adalah kesabaran. Kecelakaan lalu lintas banyak terjadi karena rem blong atau pengemudinya hanya pandai bermain gas tapi tidak terampil menginjak rem.

Betul, puasa pertama-tama adalah latihan kesabaran. Akan tetapi dimensi Ramadan sangat luas. Melebihi puasa. Sebelum kita mulai menahan diri dari lapar, haus, dan gejolak syahwat, yang membutuhkan kesabaran, kita perlu diingatkan tentang kesyukuran. Oh, mengapa?

Berikut penjelasannya. Allah menciptakan sesuatu dan memilihkan yang terbaik diantaranya sesuai kehendak-Nya. Dia menciptakan banyak sekali malaikat, lalu memilih Jibril. Mengutus ratusan ribu Nabi dan Rasul lalu memilih Nabi Muhammad SAW.

Memberi hidayah kepada pengikut para Nabi lalu memilihkan Umat Nabi Muhammad sebagai yang terbaik. Dan, Dia menetapkan penanggalan dalam 12 bulan lalu memilih Ramadan sebagai bulan terbaik.

Pada konteks ini, renungkanlah betapa seluruh kebaikan berkumpul; Dirimu, umat TERBAIK, dari Nabi TERBAIK, diberikan bulan TERBAIK. Nikmat mana lagi yang bisa didustakan?

Allah meletakkan dirimu di posisi ini bukan tidak sengaja. Itu adalah karunia yang amat besar. Menyadari ufuk luas Ramadan seperti ini melatih kesyukuran. Wajarlah Nabi SAW bersabda tentang satu malam Lailatul Qadar, “Siapa yang luput dari kebaikan malam itu, maka dirinya akan luput dari seluruh kebaikan” (HR Ibnu Majah 1634).

Jika itu tentang Ramadan, lalu bagaimana berpuasa itu sendiri? Dimana dimensi syukurnya? Cukuplah kita merenungi Firman Allah (artinya), “Kalau kamu berpuasa, itu LEBIH BAIK, sekiranya kamu mengetahui” (QS. 2: 184).

Para ulama dan pakar berbagai bidang menjelaskan kebaikan-kebaikan puasa dari berbagai disiplin ilmunya. Hikmah syariah, medis, psikologis, sosial, bahkan politik dan ekonomi.

Subhanallah, engkau dipilih Allah dari milyaran manusia sejak zaman Adam pada posisi ini. Bayangkan, renungi, betapa baik Allah-mu, maka betapa indah beribadah di bulan terbaik ini dalam semangat kesyukuran.