Daging Olahan Tercatat Naik Siginifikan 20%-30% Pada Kuartal II/2017

0
13
Daging Olahan. (Ist)

JAKARTA, Inspirasibangsa (7/6) — Di tengah harga daging masih tinggi dan pemerintah sudah menetapkan Harga Eceran Tetap (HET) daging beku, Asosiasi pengolahan daging mencatat kenaikan omzet sampai 20%-30% pada kuartal II/2017 dikarenakan permintaan yang tinggi pada Ramadan.

Ishana Mahisa, Ketua Umum Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (National Meat Processor Association/Nampa) mengatakan permintaan daging olahan pada kuartal I/2017 terbilang minim, sehingga terjadi penurunan omzet sekitar 6%-10% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Hal ini sebenarnya sudah bisa diprediksi karena pada awal tahun permintaan dinilai melambat. “Pada pekan kedua Mei akhirnya permintaan daging olahan untuk industri mulai naik, tercatat sampai saat ini naik signifikan sekitar 20%-30% dibandingkan dengan tahun lalu,” ujar Ishana sebagaimana disitir AntaraNews.com.

Nampa mencatat tren kenaikan yang terjadi tiap tahunnya selalu terjadi pada seminggu sebelum hari raya dan sepekan sesudahnya. Sedangkan untuk penurunan permintaan akan terjadi 2 pekan sebelum Idul Adha dan sebulan setelahnya.

Daging sapi yang dibutuhkan industri hampir 100% diimpor dari negara Australia, Selandia Baru, Spanyol, dan Amerika Serikat. Impor sapi tersebut dinilai harus dilakukan karena pasar sapi domestik dianggap lebih mahal.

Harga daging sapi dari Amerika, Selandia Baru, dan Australia, contohnya, sebanding pada kisaran Rp60.000 per kilogram, sedangkan Spanyol Rp58.ooo-Rp60.000 per kilogram. Harga tersebut dianggap lebih murah serta berkualitas dibandingkan dengan sapi lokal.

Selain masalah harga, keterlambatan pasok sering dirasakan pelaku bisnis daging olahan jika hanya mengandalkan sapi domestik.

“Jika konsumen sulit mendapatkan daging sapi di pasaran, dia akan beralih ke daging jenis lain. Hal ini tidak bisa dilakukan pada industri yang menuntut bahan baku selalu siap, dan tidak bisa disubtitusi dengan daging lain,” imbuhnya.

Saat ini sumber daging olahan yang bisa dipenuhi secara 100% dari pasar dalam negeri yakni daging ayam. Persentase kebutuhan industri pengolahan daging untuk saat ini mencapai 65% untuk daging sapi, sedangkan ayam 35%.

Nampa mencatat sampai saat ini pengolahan daging sapi baru bisa menyuplai 1.300-1.500 ton per bulan untuk kebutuhan industri, sedangkan daging ayam 2.000 ton per bulan. Utilitas dari pabrik pengolahan daging 62%-65%, sedangkan kapasitas terpasangnya 300.000 ton per tahun.

Ishana menambahkan pada tahun 2017 anggota asosiasi yang dipimpinnya mendapat investasi yang rencananya digunakan untuk relokasi dan penambahan pabrik baru. Investasi ini guna untuk menambah kapasitas produksi. Semoga bisa cepat terealisasikan rencana pembangunan pabrik ini.”

Penambahan dari pabrik tersebut guna mengejar target utilitas pabrik yang idealnya 70%. Hal ini diharapkan bisa dicapai pada 2017 atau tahun depan.

Persaingan penjualan justru terjadi pada hasil olahan daging seperti sosis atau nugget. Saat ini Indonesia mendapat saingan utama seperti Malaysia. Menurut dia, negara jiran itu mengimpor sampai 90% produk olahan daging.

Nampa mengklaim pada 2012 nilai impor daging olahan impor hanya Rp3 miliar, kemudian meningkat pada 2015 Rp150 miliar, pada 2016 angka impor produk olahan daging naik 30% dibandingkan dengan 2015.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), peningkatan impor daging olahan dimulai pada 2012, di mana nilai impor untuk kelompok sosis dan olahan daging lainnya sebesar US$305.612, meningkat menjadi US$4.521.997 pada 2013.

Pada 2014 mencapai US$5.559.136 atau naik 18 kali lipat dibandingkan dengan tahun 2012. Malaysia merupakan negara utama pemasok produk golongan sosis ke Indonesia senilai US$4.765.717 atau 85,73% dari total impor pada 2014.

“Harus ada tindakan nyata dari pemerintah untuk menertibkan permasalahan impor ini,” kata Ishana. (Lang)