Bom Bunuh Diri Perbuatan Dikutuk Allah Dan Bukan Tradisi Islam

0
37
Bom Bunuh Diri Kampung Melayu, Serpihannya Mirip Bom Panci. (Ist)

JAKARTA, Inspirasibangsa (25/4) — Kejadian Bom Bunuh diri di terminal Kampung Melayu semalam atau Rabu malam (24/5) oleh kelompoknya adalah tindakan jihad. Namun, sejatinya Jihad itu menurut syariat Islam adalah berjuang dengan sungguh-sungguh. Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan agama Allah atau menjaga agama Allah tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-Quran.

Jihad yang dilaksanakan Rasul adalah berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada ummat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi dengan damai dan saling mengasihi. Namun dalam berjihad, Islam melarang pemaksaan dan kekerasan, termasuk membunuh warga sipil yang tidak ikut berperang, seperti wanita, anak-anak, hingga manula.

Cukup jelas apa pengertian Jihad berdasarkan syariat Islam itu, bom bunuh diri dengan mencelakai orang lain yang tidak ikut berperang adalah perbuatan dilarang, alias diharamkan.

Islam bukan itu caranya untuk berjuang. Apa yang dicontohkan Rasulullah adalah Islam untuk memperjuangan Agama Allah harus melalui dakwah, atau pencerahan ilmu kepada umat tidak menggunakan kekerasan dan menghasut umat. Apalagi menganjurkan jihad yang belum jelas arahnya, ini tanggungjawab ulama untuk memberikan pengertian itu semua, ujar Ustadz Soleh Sofyan kepada Inspirasibangsa lewat whatsap-nya.

Harus diakui memang, bahwa agama apapun tidak mengajarkan bunuh diri, termasuk Islam. Grand Syaikh Al-Azhar, Sayyed Thanthawi dalam salah satu fatwanya menyebut bom bunuh diri sebagai perbuatan dikutuk Tuhan dan di luar tradisi Islam. Sebab bom bunuh diri mengakibatkan pada kemudaratan daripada kemaslahatan.

Menurut Sayyed Tanthawi lagi, bom bunuh diri telah menyebabkan anak-anak, kalangan perempuan dan orang tua kehilangan nyawa. Padahal dalam pandangan para ulama terdahulu, anak-anak, ibu-ibu dan orang tua renta tidak boleh dibunuh dalam situasi perang sekalipun. Bahkan, pendeta pun tidak boleh diperangi atau dibunuh.

Dalam al-Quran disebutkan, bahwa perang atau pembunuhan yang direkomendasikan adalah perang defensif, yaitu memerangi mereka yang memerangi atau melanggar perdamaian (qathilu alladzina yuqathilunakum) . Bukan hanya itu, dilarang untuk menantang perang dan melakukan kejahatan (QS. Al-Baqarah: 190).

Artinya: Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Nah, hakekatnya Islam adalah agama yang jauh dari penyerangan secara sewenang-wenang, apalagi serampangan sebagaimana bom bunuh diri di Bali. Islam secara doktrinal sesungguhnya melanjutkan dari agama-agama sebelumnya untuk menguatkan dan mengukuhkan nilai-nilai kedamain.

Dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa agama-agama sesungguhnya ibarat sebuah rumah yang sudah jadi. Nabi Muhammad SAW hanya meletakkan satu batu-bata di bagian pojok rumah itu. Batu-bata tersebut adalah fondasi moral.

Sungguh, perbuatan terorisme yang terjadi di Jakarta sudah terhitung beberapa kali sejak kejadian bom di kedutaan Australia, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan dan terakhir ini di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur setelah bom di Sarinah, Thamrin Jakarta. Ini menunjukan acaman terorisme masih subur dan tetap mengancam kehidupan umat manusia.

Sementara pemerintah bahkan di KTT Negara Arab Islam dan Amerika Serikat, Presiden Joko Widodo menyampaikan empat pemiikiran terkait pemberantasan terorisme dalam pidatonya di Riyadh, Arab Saudi, Minggu (21/5). Yaitu:

Pertama, umat Islam se-dunia harus bersatu untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah.

Kedua, Jokowi menegaskan, kerja sama pemberantasan radikalisme dan terorisme harus ditingkatkan, termasuk dalam hal pertukaran informasi intelijen; pertukaran penanganan Foreign Terrorist Fighters (FTF) dan peningkatan kapasitas. Jokowi juga berharap negara-negara di dunia berupaya menghentikan aliran dana kepada kelompok terorisme.

Ketiga, akar persoalan terorisme harus diselesaikan. Ketimpangan sosial dan ekonomi harus diakhiri diiringi dengan kebijakan penguatan ekonomi inklusif bagi kelompok yang rentan terjun ke dunia radikalisme.

Dan keempat, Presiden Jokowi berharap setiap negara di dunia berani menjadi “part of solution”, bukan “part of problem” dalam hal pemberantasan terorisme. (Lang)