AKSI Jadi Penyelesaian Persoalan Pangan di Dompu

0
18
Ist

DOMPU, Inspirasibangsa (26/5) — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan sinergi dalam Program Pangan (AKSI Pangan) bisa diterapkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan produksi pangan. Hal tersebut, seperti dalam pres rilis resmi OJK, Rabu (24/5).

Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Rahmat Waluyanto dalam kegiatan kunjungan Program Aksi Pangan di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyaksikan panen jagung dari lahan yang dikerjakan dengan menerapkan skema pembiayaan secara rantai nilai. Lahan tersebut merupakan hasil binaan Mercy Corps Indonesia, Syngenta, Pisagro, BPR Pesisir, Bank Andara dan Asuransi Central Asia.

Menurut Rahmat, dirinya melihat skema pembiayaan rantai nilai ini cocok untuk menyelesaikan berbagai persoalan produksi pangan Indonesia, yang mengedepankan proses terpadu dan saling terkait mulai dari hulu ke hilir.

“Dengan melibatkan perbankan, perusahaan pembiayaan, asuransi, petani, pemasok bibit, dan agen pemasaran serta memanfaatkan teknologi informasi di bidang pertanian,” kata Rahmat.

Program AKSI Pangan OJK di Kabupaten Dompu, merupakan sinergi antara OJK, Pemerintah Kabupaten Dompu, BNI, Bank Mandiri, BRI, Bank Andara, BPR Pesisir, Industri Keuangan Non Bank (ACA dan Jamkrindo), Fintech (8Villages), dan organisasi/asosiasi (Mercy Corps Indonesia, Syngenta, dan Pisagro). Hadir dalam kegiatan itu Bupati Dompu, Bambang M. Yasin.

Kabupaten Dompu merupakan daerah Lumbung Jagung di NTB yang menjadi lokasi pertama Program AKSI Pangan OJK, setelah dua bulan yang lalu diluncurkan di Lembah Harau, Sumatera Barat pada 24 Maret 2017.

Daerah yang memiliki 8 kecamatan ini dinilai memiliki kemampuan untuk mendukung ketahanan pangan dengan telah ditetapkan sebagai lumbung jagung nasional.

Namun, berbagai kendala di sektor infrastruktur, non infrastruktur dan pembiayaan di sektor pertanian menghambat kemajuan produksi jagung dari wilayah ini. Curah hujan yang terbatas di Kabupaten Dompu menjadi tantangan utama bagi petani dalam menyusun strategi memaksimalkan panen jagung.

Selain itu, kecepatan dan ketepatan penyaluran kredit untuk kelompok tani juga menjadi persoalan. Distribusi pupuk dan ketersediaan benih masih terus menjadi kendala.

Melalui Program AKSI pangan, Partner yang terlibat mengetahui dengan jelas dimana peran masing-masing pihak, antara lain pembiayaan, penjaminan ataupun perbaikan kebijakan.

Permasalahan kekurangan air sebagai penghambat jumlah masa tanam petani di Dompu dapat dimulai dengan pembangunan sumur, salah satunya adalah hasil sumbangan Bank BNI di Kecamatan Kempo.

Bupati Dompu menambahkan bahwa akan dimulai proses penambahan pipa dari mata air dan pemasangan sprinkle, sehingga petani dapat menambah siklus tanamnya.

Bambang menyampaikan bahwa potensi pembiayaan jagung di Dompu masih besar. Namun saat ini, proses penyaluran kredit yang dinilai lambat diharapkan dapat meningkat dengan adanya Program AKSI Pangan.

Hal tersebut didukung dengan testimoni salah satu petani saat field visit, terhadap perbankan di Dompu. Pembiayaan bank pada komoditas jagung per Desember 2016 sebesar Rp3.436 milyar.

Perbankan diharapkan telah mengetahui siklus tanam dan kebutuhan petani akan pembelian pupuk dan bibit sebagai modal usaha sehingga perbankan dapat menyusun strategi penyalurkan kredit. (Ham)

Berita Terkait: Pemerintah Tetapkan Jagung Jadi Komoditas Unggulan 2017