Agama dan Peradaban Global

0
60
Moh. Mansyur (dok)

Oleh: Moh. Mansyur, Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

JAKARTA, Inspirasibangsa (21/5) — Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi agama-agama dunia, adalah kemampuan mereka untuk beradaptasi sekaligus mengantisipasi arus globalisasi, salah satunya ialah agama Islam. Sebagai salah satu agama, Islam harus mampu berhadapan dengan tantangan globalisasi. Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah dengan menggali nilai-nilai universal dalam Islam, sebagai bagian dari upaya menghadirkan karakter Islam yang shalih likulli zaman (baca: sesuai dengan perkembangan zaman).

Hubungan antara globalisasi sebagai bagian dari produk kemanusiaan dan agama sebagai nilai-nilai spiritual, harus berjalan secara harmonis dan kompatibel dalam realitas kehidupan umat manusia. Harmonis dalam arti, kehadiran globalisasi tidak boleh menggerus dan melenyapkan nilai-nilai keagamaan dalam komunitas masyarakat. Sedangkan kompatibel, berarti agama harus mampu merespon sekaligus mengantisipasi dinamika globalisasi atau lahirnya peradaban global.

Tantangan Islam Merespon Arus Globalisasi

Namun, upaya menghadirkan Islam sebagai agama yang mampu merespons tantangan peradaban global secara harmoni dan komptibel tersebut, memiliki banyak tantangan. Misalnya, sebagian besar umat Islam ternyata masih menyikapi masalah tersebut secara bipolar (baca: dua pandangan yang saling bersaing dan bertentangan).

Pertama, pandangan bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari persoalan keduniaan (kemasyarakatan) yang tidak terpisahkan (nonsecular atau theocratic). Kedua, pandangan bahwa agama dan dunia harus dipisah (secular).

Munculnya pandangan bipolaristik tersebut, tentu tidak lepas dari penilaian masyarakat terhadap konsepsi agama dan dunia. Sebagian masyarakat berpandangan bahwa, posisi agama harus berada di atas posisi dunia yang dalam konteks ini, meletakkan agama sebagai entitas yang superior dan deterministik.

Pandangan seperti ini, biasanya dianut oleh masyarakat yang berkeyakinan bahwa agama adalah sistem kepercayaan yang berasal dan bersumber dari Tuhan. Sehingga tidak mungkin agama tunduk dan ikut perkembangan dunia. Sebagian lagi berpandangan, bahwa agama adalah persoalan privat yang tidak harus dikaitkan dengan masalah keduniaan. Agama harus dipisah oleh persoalan keduniaan.

Kedua pandangan mainstream tersebut, masih kuat tertanam di kalangan masyarakat beragama. Sehingga peluang untuk melahirkan pandangan alternatif di antara keduanya menjadi tertutup atau sulit diterima. Dalam kenyataannya, agama tidak serta-merta, terpisah secara utuh dari kehidupan global.

Demikian pula sebaliknya, persoalan globalisasi tidak sepenuhnya terlepas dari masalah keagamaan. Pandangan alternatif ini, harus hadir di tengah-tengah komunitas kaum beragama (baca: khususnya umat Islam), agar tidak terjadi hubungan yang saling menegasikan antara keduanya.

Hubungan yang paling memungkinkan adalah, menempatkan keduanya (baca: agama dan globalisasi) dalam bingkai yang saling membutuhkan atau hubungan komplementer. Hubungan ini mungkin dipandang paling tepat untuk memosisikan agama dan globalisasi sebagai bagian dari proses alamiah kehidupan umat manusia secara global.

Setiap Agama Memiliki Nilai Universal

Di sisi lain, relasi antara agama dan masyarakat (baca: termasuk budaya global) tidak terjadi secara kebetulan, melainkan masing-masing memberikan karakteristik tersendiri. Lahirnya sebuah kebudayaan di masyarakat, pada dasarnya juga dibentuk dari aspek-aspek partikularistik yang terkandung dalam sebuah agama.

Gambaran tersebut, menegaskan bahwa sebenarnya masyarakat yang ateis pun (seperti Soviet-Rusia) tetap tidak bisa menghilangkan unsur-unsur keagamaan setidaknya dalam pengertian yang luas. Dengan demikian, salah satu tantangan paling berat yang dihadapi masyarakat beragama, ketika berhadapan dengan globalisasi adalah bagaimana menghadirkan agama dalam wataknya yang lebih dinamis dan kontekstual.

Dalam artian, agama harus senantiasa hidup dalam dinamika arus globalisasi. Sekaligus mampu merespons tantangan peradaban global secara lebih cerdas dan dewasa.

Untuk menghadirkan agama lebih siap menghadapi tantangan peradaban global, masyarakat beragama (baca: khususnya umat Islam) harus mampu membenahi beberapa hal mendasar.

Pertama, adanya kesadaran masyarakat bahwa setiap agama (baca: Islam), pasti berinteraksi dengan perkembangan peradaban manusia secara global.

Kedua, agama harus ditafsirkan lebih kontekstual untuk membangun interaksi yang lebih positif. Kemudian, lebih melihat dinamika peradaban global sebagai bagian dari proses alamiah masyarakat dunia. Dan bukan malah menghambatnya atas dalih ketidak berdayaan agama.

Ketiga, nilai-nilai universal sebuah agama (baca: termasuk di dalamnya ada pluralitas ajaran agama), harus ditempatkan di atas nilai-nilai partikular yang eksklusif.

Keempat, harus dipahami bahwa upaya menghadirkan agama dalam pentas peradaban global, tidak berarti menempatkan agama pada posisi yang subordinate (baca: bawah atau lemah), melainkan justru harus menunjukan kekuatan agama (baca: Islam) sebagai shalih likulli zaman.

Pada akhirnya, apa yang disebut dengan tantangan peradaban global, sebenarnya juga menjadi tantangan masyarakat beragama. Mengingat hampir setiap agama besar di dunia, juga memiliki ciri-ciri umum yang bisa diterima dalam dinamika peradaban kemanusiaan secara universal.

Ciri-ciri umum itu, melingkupi masalah kemanusiaan, keadilan, pemerintahan yang bersih, perdamaiaan antarumat manusia, dan lainnya. Semuanya menjadi bagian persoalan peradaban global.